TVRINews, Kendari
Dinas Kesehatan Kota Kendari mencatat 923 kasus baru tuberkulosis (TBC) hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, 38 penderita merupakan anak-anak. Sepanjang Januari hingga Juni 2026 juga tercatat 41 kematian akibat penyakit tersebut.
Data itu merupakan hasil pemeriksaan terhadap 3.470 orang yang diduga atau mengalami gejala tuberkulosis. Pemeriksaan dilakukan sebagai bagian dari program Kendari Tuntas TBC melalui deteksi dini dan pelacakan kontak erat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Kendari, Elfi, mengatakan penemuan kasus terus dilakukan agar penderita dapat segera memperoleh pengobatan dan mencegah penularan.
"Hingga Juni 2026 telah ditemukan sebanyak 923 kasus baru TBC. Jumlah tersebut diperoleh dari hasil pemeriksaan terhadap 3.470 orang yang diduga atau memiliki gejala tuberkulosis," ungkap Elfi, Jumat, 31 Juli 2026.
Menurut Dinas Kesehatan, sebagian besar kasus TBC pada anak berasal dari penularan orang dewasa di lingkungan terdekat, baik anggota keluarga maupun orang yang tinggal serumah. Kondisi ini menunjukkan pentingnya deteksi dini serta kepatuhan menjalani pengobatan hingga tuntas agar penularan dapat dihentikan.
Selain itu, hasil penelusuran menunjukkan penyebaran TBC dipengaruhi sejumlah faktor, seperti riwayat kontak dengan penderita yang belum terdeteksi, kebiasaan merokok, serta kondisi lingkungan tempat tinggal yang kurang sehat. Faktor-faktor tersebut meningkatkan risiko penularan bakteri penyebab TBC.
Elfi mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami batuk berkepanjangan, demam, berkeringat pada malam hari, penurunan berat badan, atau memiliki riwayat kontak erat dengan penderita TBC.
"Pemeriksaan hingga pengobatan TBC diberikan secara gratis. Karena itu, kami mengajak masyarakat untuk segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala atau memiliki riwayat kontak erat dengan penderita TBC," imbaunya.
Pemerintah Kota Kendari terus memperkuat deteksi dini, pelacakan kontak erat, dan pengobatan hingga tuntas sebagai upaya menekan penularan serta angka kematian akibat TBC, sekaligus mendukung target Kendari Tuntas TBC.









