TVRINews, Kendari
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat di Sulawesi Tenggara agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hotspot atau titik panas selama musim kemarau yang masih berlangsung. Keberadaan titik panas menjadi salah satu indikator meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah dengan vegetasi kering.
Koordinator Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Maritim Kendari, Faisal Habibi, menyampaikan bahwa titik panas terpantau tersebar di hampir seluruh wilayah Sulawesi Tenggara. Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena berpotensi berkembang menjadi kebakaran lahan apabila tidak dilakukan langkah pencegahan sejak dini.

"Daerah yang memiliki hamparan padang savana maupun padang rumput yang luas menjadi kawasan yang paling rentan mengalami kebakaran. Selama musim kemarau, kelembapan tanah dan vegetasi menurun sehingga lahan menjadi lebih kering dan mudah terbakar. Api yang muncul juga berpotensi cepat merambat, terutama saat disertai embusan angin," jelas Faisal.
BMKG Stasiun Maritim Kendari memperkirakan potensi kemunculan titik panas masih akan berlangsung hingga puncak musim kemarau. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca serta peringatan dini yang disampaikan BMKG sebagai acuan dalam beraktivitas di lapangan.

Sebagai langkah pencegahan, BMKG meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya api, seperti membakar sampah, membuka lahan dengan cara dibakar, maupun membuang puntung rokok sembarangan. Kesadaran masyarakat dinilai menjadi faktor utama dalam menekan risiko karhutla.
BMKG juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dengan menerapkan perilaku yang peduli terhadap keselamatan dan kelestarian alam. Upaya pencegahan sejak dini diharapkan mampu meminimalkan kebakaran lahan yang dapat mengganggu kesehatan, aktivitas warga, serta kualitas lingkungan di Sulawesi Tenggara.









