TVRINews, Sulawesi Tenggara
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Pemprov Sultra) berencana memasang alat pemantau kualitas udara untuk mengukur tingkat pencemaran akibat sebaran kabut asap yang melanda sejumlah wilayah.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi udara dan mengantisipasi potensi risiko kesehatan bagi masyarakat.
Dalam beberapa hari terakhir, kabut asap terpantau menyelimuti sejumlah kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara.
Berdasarkan pemantauan BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Kendari dan citra satelit Himawari-9, sebaran asap terlihat di sebagian besar wilayah Sultra, terutama pada dini hari hingga pagi, dengan jarak pandang di beberapa lokasi menurun hingga kurang dari lima kilometer.
Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka mengatakan berdasarkan informasi BMKG, sebaran kabut asap yang memasuki wilayah Sultra tidak seluruhnya berasal dari daerah setempat.
Pola angin regional dari arah tenggara memungkinkan asap dari wilayah lain, termasuk Papua Selatan dan Maluku, terbawa hingga ke Sulawesi Tenggara.
Kondisi tersebut juga berpotensi diperparah oleh kebakaran hutan dan lahan di wilayah sekitar. Meski saat ini kabut asap dinilai belum terlalu mengganggu aktivitas masyarakat, pemerintah tetap mengantisipasi kemungkinan memburuknya kualitas udara.
Andi menegaskan kondisi kabut asap yang belum dirasakan mengganggu bukan berarti kualitas udara sepenuhnya aman. Oleh karena itu, Pemprov Sultra berencana memasang alat pendeteksi kualitas udara agar tingkat pencemaran dapat diketahui berdasarkan hasil pengukuran.
“Informasi dari BMKG, kabut asap ada yang datang dari luar Pulau Sulawesi. Namun, kalau asap yang dihirup sampai menyebabkan perih, saat ini memang belum. Tetapi, bukan berarti kondisi ini akan terus aman. Suatu saat nanti kita akan memasang alat pendeteksi kualitas udara supaya kita bisa mengetahui apakah udara berbahaya atau tidak,” ujar Andi.
Melalui pemasangan alat tersebut, pemerintah diharapkan dapat memperoleh data kualitas udara secara lebih terukur sebagai dasar dalam menentukan langkah penanganan apabila kondisi udara mulai membahayakan kesehatan masyarakat.
Sementara itu, BMKG mengingatkan bahwa sebaran kabut asap masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan. Pada kondisi tertentu, konsentrasi asap dapat meningkat, terutama apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan di wilayah sekitar.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap semakin tebal serta menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah.
Pengguna transportasi darat, laut, dan udara juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penurunan jarak pandang yang dapat memengaruhi keselamatan perjalanan.










