TVRINews - Bombana
Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, mulai berdampak terhadap sektor pertanian. Musim kemarau berkepanjangan membuat pasokan air ke sejumlah lahan persawahan semakin terbatas.
Kondisi tersebut terlihat di sejumlah petak sawah yang mulai mengering. Tanaman padi di beberapa lokasi juga terancam tidak tumbuh optimal akibat minimnya ketersediaan air.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Bombana, lahan persawahan yang terdampak kekeringan tersebar di Kecamatan Lantari Jaya dan Rarowatu Utara dengan total luas mencapai 2.810 hektare. Lahan tersebut dipastikan mengalami puso atau gagal panen.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bombana, Sarif, mengatakan luas persawahan di dua kecamatan tersebut mencapai sekitar 5.000 hektare. Sebagian lahan masih dapat berproduksi karena memiliki sumber pengairan, sementara sawah tadah hujan menjadi yang paling terdampak.

“Untuk Kabupaten Bombana, sesuai data yang masuk, yang terdampak kekeringan akibat El Nino dan itu sudah mengalami puso seluas 2.810 hektare. Kalau kita melihat data yang masuk di dua kecamatan kurang lebih 5.000 hektare untuk produksinya, itu dapat dipastikan bahwa 85 sampai 90 persen akan berdampak dari segi produksi,” jelas Sarif kutip Selasa, 29 September 2026.
Dinas Pertanian Kabupaten Bombana terus memantau kondisi lahan pertanian, terutama di wilayah yang menjadi sentra produksi padi.
Upaya penanganan juga dilakukan dengan mengerahkan mesin pompa air ke sejumlah lokasi yang masih memiliki sumber air. Bantuan tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air tanaman sekaligus mencegah meluasnya dampak kekeringan pada lahan yang masih berpotensi menghasilkan panen.
Pemerintah daerah juga terus melakukan pemantauan terhadap kondisi persawahan guna mengantisipasi dampak kemarau berkepanjangan terhadap produksi pangan di Kabupaten Bombana.










