TVRINews, Kendari
Sebanyak 10 sekolah di Sulawesi Tenggara (Sultra) terpilih menjadi sekolah model implementasi Pembelajaran Mendalam (PM), serta Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). Program ini menjadi bagian dari upaya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan memperkuat kompetensi digital peserta didik.
Sepuluh sekolah tersebut tersebar di tujuh kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara, dengan cakupan jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), sekolah menengah kejuruan (SMK), hingga sekolah luar biasa (SLB).
Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Sulawesi Tenggara, Junaiddin Pagala, mengatakan penetapan sekolah model tersebut merupakan bagian dari program prioritas Kemendikdasmen yang menargetkan 1.000 sekolah secara nasional.

"Program prioritas Kemendikdasmen yang ada di Sulawesi Tenggara ini merupakan bagian dari target nasional sebanyak 1.000 sekolah. Alhamdulillah, di Sulawesi Tenggara ada 10 sekolah, mulai dari jenjang SMA, SMP, hingga SD. Fokusnya adalah implementasi program prioritas terkait Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial," jelas Junaiddin Pagala, dikutip Rabu, 4 November 2026.
Adapun 10 sekolah yang terpilih terdiri atas lima SMA dan SMK, tiga SMP, satu SD, serta satu SLB. Sekolah tersebut meliputi SMAN 1 Kendari, SMAN 4 Kendari, SMAN 3 Bombana, SMKN 1 Kendari, SMKN 1 Baubau, SMPN 5 Kendari, SMPN 2 Unaaha, SMPN 16 Konawe Selatan, SDN 1 Rate-Rate, serta SLBS Amet Jaya Raha.
Penetapan sekolah model dilakukan oleh pemerintah pusat dengan mempertimbangkan sejumlah indikator dalam rapor pendidikan. Indikator tersebut di antaranya capaian literasi dan numerasi, serta kesiapan sekolah dalam mengimplementasikan Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial.
Melalui program ini, sekolah-sekolah terpilih diharapkan dapat menjadi percontohan bagi satuan pendidikan lainnya dalam menerapkan metode pembelajaran yang lebih mendalam, kontekstual, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Selain itu, pengenalan koding dan kecerdasan artifisial di lingkungan pendidikan diharapkan mampu memperkuat kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kompetensi digital peserta didik sejak dini.
Implementasi program tersebut menjadi salah satu langkah Kemendikdasmen dalam mendorong transformasi pembelajaran sekaligus mempersiapkan peserta didik menghadapi perkembangan teknologi dan kebutuhan kompetensi di masa depan.









