TVRINews, Sultra
Kekeringan mulai mengancam lahan pertanian di Sulawesi Tenggara. Hingga akhir Agustus 2026, lebih dari 8.000 hektare lahan padi terdampak kekeringan. Bahkan, lebih dari 2.000 hektare di antaranya mengalami puso atau gagal panen.
Pemerintah pun mulai menyalurkan pompa air hingga memasok air dari luar daerah untuk menyelamatkan lahan pertanian yang masih dapat dipertahankan.
Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tenggara, hingga 28 Agustus 2026 tercatat 8.251,01 hektare lahan padi mengalami kekeringan.
Kondisi tersebut tersebar di sejumlah kabupaten dan kota, dengan luasan terbesar berada di Kabupaten Bombana dan Kolaka Timur.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tenggara, Muhammad Taufik, mengatakan data tersebut dihimpun sejak Juli hingga 28 Agustus 2026.
”Tak hanya terdampak kekeringan, sebagian lahan bahkan telah mengalami puso. Total lahan padi yang mengalami gagal panen mencapai 2.140,6 hektare. Kondisi terparah terjadi di Kabupaten Bombana dengan luas 2.072 hektare, disusul Konawe Selatan 59,6 hektare, Kolaka 7 hektare, dan Kota Kendari 2 hektare,” ujarnya, Kamis, 3 September 2026.
Muhammad Taufik Menambakan Kekeringan tercatat terjadi di Buton seluas 27,25 hektare, Konawe 510,76 hektare, Kolaka 112 hektare, Konawe Selatan 1.522,5 hektare, Bombana 2.916 hektare, Kolaka Timur 2.727 hektare, Kota Kendari 363,5 hektare, dan Kota Baubau 66 hektare.
Selain tanaman padi, kekeringan juga berdampak pada tanaman jagung. Di Konawe Selatan, tercatat 192 hektare lahan jagung turut mengalami kekeringan.
”Untuk mengurangi dampak kekeringan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara melalui Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan telah menyalurkan 22 unit pompa air berukuran tiga inci, lengkap dengan selang sepanjang 100 meter.,” tambahnya.
Pompa tersebut diprioritaskan untuk lahan pertanian yang masih memiliki sumber air sehingga air dapat dialirkan ke area persawahan yang membutuhkan.
Sementara bagi lahan yang sudah tidak memiliki sumber air, pemerintah menyiapkan langkah lain. Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Sulawesi Tenggara bekerja sama dengan BPBD serta Balai Wilayah Sungai untuk melakukan suplai air dari luar daerah.
Pemerintah berharap langkah tersebut dapat membantu petani yang terdampak kekeringan sekaligus menyelamatkan lahan pertanian yang masih memungkinkan dipertahankan di tengah ancaman musim kemarau.










