TVRINews, Kendari
Sebanyak 35 hektare sawah di kawasan Amohalo, Kelurahan Baruga, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, terdampak kekeringan akibat musim kemarau. Lahan tersebut masuk kategori terdampak berat dari total sekitar 335 hektare persawahan di Kota Kendari.
Kondisi ini terjadi setelah musim kemarau berlangsung sekitar satu bulan. Permukaan tanah di sejumlah area mulai mengering dan tanaman padi terancam kekurangan pasokan air.
Meski terdampak berat, Dinas Pertanian Kota Kendari memastikan tanaman padi di kawasan tersebut belum mengalami puso.
Kepala Dinas Pertanian Kota Kendari, Imran Ismail, mengatakan pihaknya bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari terus melakukan upaya penyelamatan tanaman padi dengan menyalurkan air ke lahan yang terdampak.
“Kami sudah melakukan lanhgkah langkah mitigasi, yang pertama koordinasi dengaan balai wilayah sungai dan alhamdulillah, kurang lebih 4 hari ini bws sudah menyiapka rumah pompa air dan terus berupaya memompa di sumber air yang ada,” jelasnya.
BWS Sulawesi IV Kendari telah menyiapkan dua unit mobil pompa dengan kapasitas masing-masing 250 liter per detik. Pompa digunakan untuk menyedot air dari aliran Sungai Wanggu, kemudian dialirkan ke area persawahan.
Pemompaan telah dilakukan selama kurang lebih empat hari untuk mempercepat pasokan air ke lahan pertanian.
Selain bantuan tersebut, kelompok tani juga telah menerima empat unit pompa air dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara. Seluruh upaya dilakukan untuk menjaga tanaman padi tetap bertahan hingga masa panen.
Pemanenan musim tanam kedua di kawasan persawahan Amohalo dijadwalkan berlangsung pada akhir September atau awal Oktober 2026.
Pemerintah berharap penyaluran air dapat menekan dampak kekeringan sekaligus menyelamatkan tanaman padi petani hingga memasuki masa panen.










