TVRINews, Sulawesi Tenggara
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Sulawesi Tenggara belum akan merasakan dampak musim kemarau secara signifikan pada Juni 2026. Beberapa daerah bahkan diperkirakan baru mulai memasuki periode kemarau pada Juli mendatang.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Kendari, Riska Lestari, menjelaskan bahwa musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung bersamaan dengan fenomena El Nino yang berpotensi memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi Tenggara.
Meski demikian, menurutnya kondisi cuaca di Sultra masih bervariasi. Beberapa wilayah belum menunjukkan karakteristik kemarau yang kuat karena curah hujan masih terjadi di sejumlah daerah.

“Untuk wilayah Baubau, Buton, dan Buton Selatan, potensi kemarau sudah mulai dirasakan pada bulan ini. Sementara wilayah Kendari, Konawe, dan Konawe Utara diperkirakan akan mulai mengalami peningkatan potensi kemarau pada Juli mendatang,” kata Riska, dikutip Kamis, 25 Juni 2026.
BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak lengah dan mulai melakukan berbagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau. Persiapan yang disarankan antara lain memastikan ketersediaan stok pangan dan cadangan air bersih, serta mengoptimalkan sistem irigasi melalui pompanisasi guna mengurangi risiko gagal panen di sektor pertanian.
Selain itu, masyarakat juga diimbau memanfaatkan sisa curah hujan yang masih terjadi saat ini sebagai sumber cadangan air untuk kebutuhan rumah tangga maupun pertanian. BMKG juga meminta masyarakat untuk mewaspadai potensi penurunan kualitas udara yang umumnya terjadi selama musim kemarau, terutama jika disertai peningkatan aktivitas pembakaran lahan.
Dengan berbagai langkah antisipasi tersebut, dampak musim kemarau diharapkan dapat diminimalkan sehingga aktivitas masyarakat dan sektor pertanian tetap berjalan dengan baik meskipun memasuki periode cuaca yang lebih kering.










