TVRINews, Sulawesi Tenggara
Perwakilan BKKBN Sulawesi Tenggara, Asmar, mengatakan upaya percepatan penurunan stunting di Sulawesi Tenggara terus menunjukkan hasil positif. Berdasarkan data terbaru, prevalensi stunting di daerah ini mengalami penurunan signifikan dari sekitar 30 persen menjadi 21,6 persen pada tahun 2024.
Asmar menjelaskan, penurunan angka stunting tersebut merupakan hasil dari berbagai program intervensi yang dijalankan secara konsisten oleh pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan. Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi indikator bahwa upaya pencegahan dan penanganan stunting yang dilakukan selama ini mulai menunjukkan dampak yang nyata.

Meski demikian, pemerintah tidak ingin berpuas diri. Pendampingan terhadap keluarga yang masuk kategori berisiko stunting tetap menjadi prioritas guna memastikan tren penurunan angka stunting dapat terus berlanjut.
Salah satu langkah yang terus diperkuat adalah melalui Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING). Program ini berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi kelompok rentan, terutama balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Menurut Asmar, kecukupan nutrisi memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Karena itu, intervensi gizi harus dilakukan sejak masa kehamilan hingga anak memasuki usia balita agar risiko stunting dapat dicegah sejak dini.
“Pemenuhan gizi yang baik menjadi kunci dalam menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas. Melalui Program GENTING, diharapkan kualitas asupan gizi keluarga dapat meningkat sehingga percepatan penurunan stunting di Sulawesi Tenggara dapat terus terjaga,” kata Asmar, dikutip Kamis, 25 Juni 2026.
Pemerintah optimistis target penurunan stunting di Sulawesi Tenggara dapat tercapai dengan dukungan program intervensi gizi yang berkelanjutan serta keterlibatan aktif berbagai pihak. Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan semakin banyak anak tumbuh sehat, cerdas, dan produktif sehingga mampu menjadi sumber daya manusia unggul di masa depan.










