TVRInews, Kendari
Dinas Kesehatan Kota Kendari terus memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian Tuberkulosis (TBC) melalui berbagai program deteksi dini dan penanganan kasus. Hingga Mei 2026, sebanyak 730 kasus baru TBC berhasil ditemukan melalui kegiatan skrining aktif yang menyasar kelompok berisiko tinggi dan masyarakat yang memiliki kontak erat dengan penderita.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Kendari, Elfi, mengatakan penemuan kasus secara dini menjadi salah satu langkah penting untuk menekan penyebaran penyakit menular tersebut di masyarakat.
“Skrining aktif dilakukan agar kasus TBC dapat ditemukan lebih cepat sehingga penanganan bisa segera diberikan dan risiko penularan kepada orang lain dapat diminimalkan,” kata Elfi.
Menurutnya, TBC masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang memerlukan perhatian serius. Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala-gejala yang mengarah pada penyakit tersebut.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk berkepanjangan, demam, keringat berlebih pada malam hari tanpa aktivitas berat, gangguan tidur, penurunan nafsu makan, hingga berat badan yang terus menurun tanpa sebab yang jelas.
“Deteksi dini sangat penting untuk memutus rantai penularan. Masyarakat yang mengalami gejala tersebut diharapkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat,” ujarnya.
Meski berbagai upaya telah dilakukan, pengendalian TBC masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah rendahnya kesadaran sebagian anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita untuk menjalani pemeriksaan kesehatan maupun mengikuti langkah-langkah pencegahan yang dianjurkan.
Padahal, kelompok kontak serumah termasuk kategori yang memiliki risiko tinggi tertular karena sering berinteraksi langsung dengan penderita TBC.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Kota Kendari terus mengoptimalkan pelaksanaan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Program ini diberikan kepada individu yang memiliki kontak erat dengan penderita melalui pemberian obat pencegahan dalam jangka waktu tertentu.
Elfi menjelaskan bahwa TPT bertujuan meningkatkan perlindungan tubuh terhadap infeksi TBC sekaligus mengurangi risiko berkembangnya penyakit menjadi TBC aktif.
“Kami terus mendorong pelaksanaan TPT karena terbukti menjadi salah satu langkah efektif dalam mencegah munculnya kasus baru, khususnya pada kelompok yang memiliki risiko tinggi,” katanya.
Ia menambahkan, capaian program TPT di Kota Kendari menunjukkan tren yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut dinilai sejalan dengan strategi nasional untuk mendukung target eliminasi TBC di Indonesia.
Melalui skrining aktif, edukasi kesehatan, serta perluasan cakupan terapi pencegahan, Dinas Kesehatan Kota Kendari berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini semakin meningkat sehingga angka penularan TBC dapat terus ditekan secara bertahap.










