TVRINews - Baubau
Di balik kesehariannya sebagai cleaning service, La Ode Mardan menyimpan kisah perjuangan sebagai atlet teqball yang berhasil membawa nama Indonesia ke panggung olahraga internasional.
Pemuda asal Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, itu pernah memperkuat tim Merah Putih dalam dua ajang bergengsi, yakni SEA Games 2025 di Thailand dan Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Jepang.
Namun, jauh dari gemerlap arena pertandingan, Mardan menjalani kehidupan sederhana. Ia bekerja sebagai pegawai honorer dengan tugas sebagai cleaning service di Rumah Jabatan Wali Kota Baubau. Di tengah kesibukannya bekerja, Mardan juga harus membagi waktu untuk kuliah dan menjalani latihan sebagai atlet.
Perjalanan Mardan di dunia olahraga bermula dari sepak takraw. Kecintaannya terhadap olahraga tersebut tumbuh dari lingkungan keluarga. Sang paman, Husni Uba, serta ibunya, Sunarti, memiliki latar belakang di cabang olahraga sepak takraw.
Sejak duduk di kelas enam sekolah dasar, Mardan mulai serius berlatih dan mengikuti berbagai kejuaraan. Kemampuan yang ditempa melalui sepak takraw kemudian menjadi modal penting ketika dirinya beralih menekuni teqball.

Kesempatan membawa nama Indonesia datang pada 2025. Mardan mengikuti seleksi atlet teqball di Jakarta dan berhasil terpilih untuk memperkuat Indonesia pada SEA Games 2025 di Thailand.
Berpasangan dengan pamannya, Husni Uba, Mardan sukses mempersembahkan medali perak dari nomor ganda putra.
Prestasi tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan bagi Mardan, tetapi juga membawa perubahan bagi kehidupan keluarganya. Bonus yang diperoleh dari prestasinya digunakan untuk membeli rumah bagi kedua orang tuanya.
Sebelumnya, keluarga Mardan masih menumpang di rumah sang nenek. Kini, rumah yang dibeli dari hasil perjuangannya sebagai atlet telah ditempati Mardan bersama ibu dan adiknya sejak sekitar lima bulan terakhir.
Perjalanan Mardan hingga mencapai panggung internasional juga tidak terlepas dari perjuangan kedua orang tuanya. Sang ayah, La Ode Ardin, selama bertahun-tahun merantau dan menjalani berbagai pekerjaan demi memenuhi kebutuhan keluarga serta membiayai pendidikan anak-anaknya.
Sementara sang ibu, Sunarti, terus mendampingi dan mengingatkan Mardan untuk disiplin berlatih tanpa melupakan ibadah serta rasa syukur.

“Shalat lima waktu jangan dilupakan, kita harus tetap berdoa. Jadi biarpun kita berusaha bagaimana, kita harus melaksanakan salat lima waktu itu. Berhasil dan tidaknya kita syukuri, kalaupun gagal mungkin rezeki yang tertunda,” ungkap Sunarti.
Bagi Sunarti, kemenangan maupun kekalahan merupakan bagian dari perjalanan seorang atlet. Kegagalan di arena pertandingan harus menjadi motivasi untuk kembali berlatih dan berusaha lebih keras.
Setelah SEA Games 2025, kesempatan kembali datang. Mardan dipercaya memperkuat Indonesia pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Jepang.
Kembali berpasangan dengan Husni Uba, Mardan mampu melewati fase grup dan melanjutkan perjuangan melalui babak repechage. Langkah keduanya kemudian terhenti dalam perebutan medali perunggu setelah kalah dari pasangan Kuwait dengan skor 1-2.
Meski belum berhasil membawa pulang medali dari Jepang, pengalaman tersebut menjadi bekal bagi Mardan untuk terus meningkatkan kemampuannya sebagai atlet.
Di balik pencapaiannya, Mardan mengaku doa dan dukungan keluarga menjadi salah satu kekuatan yang mengantarkannya hingga mampu mengenakan seragam Indonesia di panggung internasional.
Setelah berhasil mewujudkan keinginan membelikan rumah untuk orang tuanya, Mardan kini menyimpan cita-cita lain. Ia ingin membantu sang ayah yang selama ini bekerja jauh dari keluarga di Papua agar dapat kembali ke kampung halaman dan memiliki sumber penghasilan sendiri.
“Sebenarnya saya sudah mau kasih usaha ke orang tua, termasuk bapak saya yang merantau ke Papua. Keinginan saya, insyaallah jika punya rezeki, saya mau belikan sawah untuk bapak supaya tidak jauh-jauh lagi mencari rezeki di Papua sana,” ujar Mardan.
Sepulang dari panggung internasional, Mardan kembali menjalani kesehariannya di Baubau. Ia tetap bekerja sebagai cleaning service, melanjutkan perkuliahan, sekaligus berlatih untuk mempersiapkan diri menghadapi kejuaraan berikutnya.
Dari Rumah Jabatan Wali Kota Baubau hingga arena olahraga internasional, perjalanan La Ode Mardan menjadi potret perjuangan seorang atlet yang tumbuh dalam kesederhanaan. Di tengah pekerjaan, kuliah, dan keterbatasan, ia terus menjaga mimpinya untuk berprestasi dan kembali membawa nama Indonesia di panggung dunia.










