TVRINews, Sulawesi Tenggara
Wilayah Sulawesi Tenggara berada dalam kewaspadaan tinggi menghadapi potensi bencana hidrometeorologi kering sepanjang 2026. Kondisi dinamika atmosfer yang terjadi berpotensi memperpanjang musim kering dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan di sejumlah wilayah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat fenomena El Nino pada Agustus 2026 menjadi perhatian serius karena dapat memengaruhi kondisi cuaca dan pola curah hujan. Situasi tersebut semakin memperkuat pentingnya kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana selama musim kemarau.
Kondisi ini juga beririsan dengan pemetaan risiko dalam Dokumen Kajian Risiko Bencana Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2022–2026 yang menempatkan kekeringan sebagai salah satu bencana dengan tingkat risiko tinggi di seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara.
Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, dalam apel siaga dan simulasi penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan, menyebut Sulawesi Tenggara memiliki kerawanan terhadap bencana hidrometeorologi kering yang perlu diantisipasi secara bersama-sama.
“Dengan adanya simulasi ini, membiasakan stakeholder terkait untuk tanggap dalam keadaan tersebut, sekaligus memberikan perhatian khusus yang melibatkan masyrakat, sehingga paham dengan kondisi yang terjadi,” ujar Sumangerukka, dikutip Senin, 31 Agustus 2026.
Untuk kategori risiko tinggi kebakaran hutan dan lahan ada di 7 kabupaten dan 10 kabupaten lainnya tergolong dalam kategori sedang.
“Ketujuh wilayah tersebut yakni Kabupaten Kolaka, Konawe, Konawe Selatan, Bombana, Buton Tengah, Kota Kendari dan Kota Baubau. Untuk sepuluh kabupaten lainnya berada pada kategori risiko sedang untuk kebakaran hutan dan lahan. Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Muna, Buton, Wakatobi, Kolaka Utara, Konawe Utara, Buton Utara, Kolaka Timur, Konawe Kepulauan, Muna Barat dan Buton Selatan,” jelas Andi Sumangerukka.
Meski berada dalam kategori risiko sedang, daerah-daerah tersebut tetap diminta meningkatkan kesiapsiagaan, terutama ketika curah hujan mulai menurun dan kondisi vegetasi serta lahan semakin kering.
Berbeda dengan pemetaan risiko karhutla, ancaman kekeringan memiliki cakupan yang lebih luas. Seluruh 17 kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara tergolong memiliki risiko tinggi terhadap bencana kekeringan.
Kajian Risiko Bencana Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2022–2026 menunjukkan risiko kekeringan berada pada kelas tinggi dengan tingkat bahaya dan kerentanan yang juga tinggi. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena kekeringan berpotensi berdampak terhadap kehidupan masyarakat, sektor pertanian, ketahanan pangan, hingga ketersediaan air bersih.
Peringatan dini mengenai potensi kekeringan juga menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk memperkuat langkah mitigasi dan kesiapsiagaan. Pemerintah kabupaten dan kota diharapkan terus memantau perkembangan informasi cuaca dan iklim serta menyiapkan langkah antisipasi sesuai kondisi wilayah masing-masing.
Menghadapi potensi tersebut, masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran lahan. Pembakaran lahan secara sembarangan dinilai dapat memperbesar risiko kebakaran, terutama ketika kondisi tanah dan vegetasi berada dalam keadaan kering.
Masyarakat yang menemukan titik api juga diminta segera melaporkan kepada petugas atau instansi terkait agar penanganan dapat dilakukan sejak dini dan api tidak meluas.









